Gerakan Pemuda Dahulu dan Kini: Untuk Negeri Yang Lebih Baik

Pemuda, dengan segala pemikiran revolusioner, semangat yang membara, serta energi yang meluap – luap, selalu menjadi poros dan penggerak dalam sebuah perjuangan. Ketika rezim lama sudah stagnan, mereka mengambil alih bendera perjuangan untuk pergerakan yang lebih progresif. Karakter mereka yang tidak suka dengan birokrasi yang bertele-tele serta proses yang lamban adalah sumbu dari obor revolusi.

Masa Lalu yang Cemerlang

Tipe gerakan seperti ini terjadi pada segala zaman di negeri ini. Mulai jauh sebelum masa kemerdekaan ketika Sentot Ali Basa muda dengan gagah memimpin pasukan melawan kolonial Belanda. Kemudian golongan intelektual pribumi, produk dari politik balas budi Belanda, membentuk organisasi – organisasi perjuangan untuk kemerdekaan bangsa. Mulai dari Budi Utomo pada tahun 1908 yang sangat nasionalis hingga Muhammadiyah sebagai gerakan social, pendidikan dan agama. Tahun 1928 menjadi bukti nyata betapa kuatnya pergerakan di kalangan pemuda dan mahasiswa. Ketika golongan tua sudah terlanjur takut dan tunduk pada penjajah, mereka bersatu padu mendeklasikan sumpah terampuh di kalangan pemuda, Sumpah Pemuda. Suatu ikrar persatuan tanpa pembedaan RAS demi terwujudnya kemerdekaan bangsa. Tanpa pemuda, negeri ini tidak mungkin merdekan pada 17 Agustus 1945. Jika mereka tidak menculi Bung Karno ke Rengasdenglok pada tengah – tengah malam kemudian tidak memaksa beliau segera mem-proklamir-kan kemerdekaan bangsa ini, jam 10.00 hari Jum’at pagi tanggal 17 Agustus 1945 bukanlah saat yang istimewa bagi negeri berpenduduk lebih dari 220 juta jiwa ini.

Mereka tak henti sampai disana. Selama perbaikan nasib bangsa tidak segera terlaksana, lengan baju mereka siap untuk disingsingkan untuk segera memenuhi panggilan ibu pertiwi. Tentu masih hangat dalam ingatan kita semua, 12 Mei 1998 di Jakarta, pusat dari kegiatan kenegaraan kita. Ketika mahasiswa dari berbagai golongan, pergerakan, dan perguruan tinggi, bersatu padu turun ke jalan untuk melakukan revolusi perubahan pada bangsa ini. 32 tahun di bawah kekuasaan Jend Soeharto harus segera diakhiri. Di saat media massa sudah kehilangan taji, ketika parlemen tidak sanggup lagi menyuarakan aspirasi rakyat, pada masa pejabat sudah takut sama atasa, serta rakyat tidak sanggup lagi menunggu perbaikan, mahasiswa lah yang berani bergerak. Mereka mengepung gedung DPR/MPR RI untuk meng-impeachment presiden terpilih, Soeharto. Berkat perjuanga mereka, era ORBA pun berhasil di akhiri. Reformasi yang mereka suarakan pun akhirnya terwujud.

Paradoks Masa Kini

Itulah potret pergerakan pemuda dan mahasiswa di masa lalu. Kecintaan mereka yang luar biasa tingginya pada bangsa ini mampu meleburkan segala bentuk perbedaan dan kepentingan demi satu tujuan. Kemurnian tekad mereka tanpa adanya harapan apapun dari manusia lainnya, tak mengharapkan harta benda, pujian, apalagi sekedar ucapan terima kasih dari orang – orang di sekitarnya. Not at all!. Yang mereka harapkan adalah terbentuknya Indonesia yang lebih baik.

Akan tetapi, nilai – nilai itu mulai memudar jika kita amati di masa – masa sekarang. Semangat – semangat mereka banyak yang sudah luntur. Semakin sedikit jumlah pemuda yang terlibat secara aktif organisasi perjuangan di lingkungan kampus serta pengaruh gaya hedonis ala barat semakin mem-bobrok-kan suasana.

Mengapa Mereka Berubah?

Ketika masa perjuangan kemerdekaan, mahasiswa dan pemuda mampu mengadakan kongres dan pertemuan, meskipun teknologi komunikasi sangat jauh tertinggal dari masa sekarang. Namun kini, forum – forum diskusi mahasiswa semakin sepi dan kehilangan peminat. Detika dahulu Prof. Sardjito dan dr. Karjadi, yang keduanya merupakan dokter, menjadi pasukan garda terdepan dalam perjuangan bangsa. Kini mahasiswa kedokteran telah disibukkan dengan diktat – diktat tebal serta jadwal kuliah yang padat, hanya segelintir saja yang sempat berfikir tentang bangsa yang tak kunjung makmur ini serta rakyat yang melarat di negeri kaya akan SDA. Ketika tahun 1998 mahasiswa dari berbagai kalangan mampu bersatu padu menurunkan rezim Suharto, pemuda kini lebih disibukkan dengan kepentingan golongan organisasinya. Bahkan tidak terelakkan perseteruan antara lembaga mahasiswa. Tahun 1960-an, isu Tritura (Tri Tuntutan Rakyat) menjadi isu nasional dan didukung oleh rakyat, tahun 2008 mahasiswa mendeklarasikan isu Tugu Rakyat (Tujuh Gugatan Rakyat) sebagai solusi atas kesengsaraan rakyat yang tak kunjung usai. Namun hasilnya 180 derajat dari Tritura. Apakah gerangan yang membuat perjuangan dari masa ke masa makin tidak terasa?

Ada banyak sekali penyebab melempemnya pergerakan mahasiswa. Pertama, pengaruh hedonisme budaya barat yang cepat sekali menyebar ke kalangan remaja. Pandangan bahwa hidup hanya sekali so harus dinikmati, membuat mereka menggunakan waktu – waktu luang mereka untuk bersenang – senang. Para pelajar di kota – kota besar akan lebih banyak yang berada di night club pada malam minggu daripada yang berdiskusi tentang penyelesaian permasalahan bangsa ini. Remaja yang lebih memikirkan bagaimana penampilannya di mata lawan jenis semakin banyak saja jumlahnya, mengalahkan mereka yang lebih memikirkan penderitaan rakyatnya.

Faktor kedua adalah privatisasi lembaga pendidikan. Semakin diberi kebebasan untuk mengatur kampusnya sendiri, PTN – PTN telah berubah kostum menjadi lembaga dagang daripada lembaga pendidikan. Dengan semakin melangitnya biaya kuliah, maka semakin kecillah kesempatan kaum pinggiran untuk kuliah. Akhirnya hanya orang – orang berduit saja yang kuliah. Faktor ini bersinergi dengan faktor yang pertama untuk menghasilkan generasi yang suka foya – foya. Mereka orang berduit serta berpikiran sempit bahwa hidup adalah untuk dinikmati, maka rusaklah generasi muda di perguruan tinggi. Semakin tahun, semakin banyak saja mahasiswa borjuis yang diterima di PTN, selaras dengan itu, semakin banyak pulalah kaum hedonis.

Kedua faktor internal dari mahasiswa itu ditambah lagi dari sektor kampus. Dengan dalil peningkatan kualitas, PTN – PTN makin mengetatkan jadwal perkuliahan mereka sehingga mahasiswa akan disibukkan dengan kuliah saja, hampir tidak ada waktu luang untuk ikut berorganisasi dan berdiskusi. Waktu mereka dihabiskan untuk mengerjakan tugas – tugas kuliah, laporan praktikum, hafalan bahan – bahan yang dipadatkan. Dengan biaya kuliah yang mahal, mereka pasti ingin segera cepat – cepat lulus dan diterima kerja. Frame berfikir untuk menjadi pekerja inilah yang mengkikis semangat dan kepedulian mahasiswa masa kini.

Tiga faktor tersebut masih bisa meloloskan sebagian mahasiswa untuk tetap aktif di organisasi perjuangan. Namun permasalahan tak berhenti sampai disana saja. Ada saja golongan – golongan yang memanfaatkan keberadaan organisasi mahasiswa untuk membawa misi – misi politis mereka. Sebagian mahasiswa pastinya tahu kenapa BEM salah satu perguruan tinggi terkemuka di Jawa Tengah dibubarkan. Sederhana: mereka disinyalir ditumpangi oleh parpol tertentu. Bahkan yang lebih parah lagi adalah kasus di UNHAS, mahasiswa diprovokasi sedemikian rupa sehingga tampil brutal laksana preman yang tak pernah mengenyam pendidikan.

Faktor berikutnya adalah kurangnya dukungan dari institusi lain terkait perjuangan mahasiswa era modern ini. Di tahun 1945, ketika para pemuda berhasil menggerakkan bung Karno untuk memproklamirkan nusantara, media cetak dan elektronis dengan segera menyebarkan berita tersebut. Tritura pun bisa menjadi isu nasional ketika media mendukung pergerakan itu. Namun, 12 Mei lalu, ketika Tugu Rakyat diusung oleh mahasiswa dari seluruh penjuru negeri, media sama sekali tidak menunjukkan kerjasamanya dengan mahasiswa. Tak satupun surat kabar nasional yang mempublikasikannya. Parahnya lagi, ketika ada aksi mahasiswa yang anarkhi, media dengan segera mempublikasikannya.

Penguatan Semangat Mahasiswa

Dengan sedemikian berat tantangan yang dihadapi mahasiswa dalam berjuang, semangat dan dedikasi yang tinggi sangat diperlukan. Mereka tidak boleh tergoda oleh godaan hedonisme rekan – rekan mereka di kampus. Jadwal kuliah yang ketat juga harus disiasati dengan jitu supaya mereka bisa menjadi Bung Hatta yang cemerlang di kuliah juga sangat aktif di organisasi. Dukungan yang minim dari instansi lainnya juga semestinya tidak menjadi masalah yang berarti dalam berjuang. Karena mahasiswa semestinya tidak mengharap imbalan apapun dari perjuangan mereka.

Tetap semangat wahai mahasiswa dan pemuda Indonesia. Bangsa ini masih menginginkanmu untuk membawa perubahan. Karena harapan itu masih ada! Hidup Mahasiswa Indonesia! Hidup rakyat Indonesia!

Pemuda, dengan segala pemikiran revolusioner, semangat yang membara, serta energi yang meluap – luap, selalu menjadi poros dan penggerak dalam sebuah perjuangan. Ketika rezim lama sudah stagnan, mereka mengambil alih bendera perjuangan untuk pergerakan yang lebih progresif. Karakter mereka yang tidak suka dengan birokrasi yang bertele-tele serta proses yang lamban adalah sumbu dari obor revolusi.

Masa Lalu yang Cemerlang

Tipe gerakan seperti ini terjadi pada segala zaman di negeri ini. Mulai jauh sebelum masa kemerdekaan ketika Sentot Ali Basa muda dengan gagah memimpin pasukan melawan kolonial Belanda. Kemudian golongan intelektual pribumi, produk dari politik balas budi Belanda, membentuk organisasi – organisasi perjuangan untuk kemerdekaan bangsa. Mulai dari Budi Utomo pada tahun 1908 yang sangat nasionalis hingga Muhammadiyah sebagai gerakan social, pendidikan dan agama. Tahun 1928 menjadi bukti nyata betapa kuatnya pergerakan di kalangan pemuda dan mahasiswa. Ketika golongan tua sudah terlanjur takut dan tunduk pada penjajah, mereka bersatu padu mendeklasikan sumpah terampuh di kalangan pemuda, Sumpah Pemuda. Suatu ikrar persatuan tanpa pembedaan RAS demi terwujudnya kemerdekaan bangsa. Tanpa pemuda, negeri ini tidak mungkin merdekan pada 17 Agustus 1945. Jika mereka tidak menculi Bung Karno ke Rengasdenglok pada tengah – tengah malam kemudian tidak memaksa beliau segera mem-proklamir-kan kemerdekaan bangsa ini, jam 10.00 hari Jum’at pagi tanggal 17 Agustus 1945 bukanlah saat yang istimewa bagi negeri berpenduduk lebih dari 220 juta jiwa ini.

Mereka tak henti sampai disana. Selama perbaikan nasib bangsa tidak segera terlaksana, lengan baju mereka siap untuk disingsingkan untuk segera memenuhi panggilan ibu pertiwi. Tentu masih hangat dalam ingatan kita semua, 12 Mei 1998 di Jakarta, pusat dari kegiatan kenegaraan kita. Ketika mahasiswa dari berbagai golongan, pergerakan, dan perguruan tinggi, bersatu padu turun ke jalan untuk melakukan revolusi perubahan pada bangsa ini. 32 tahun di bawah kekuasaan Jend Soeharto harus segera diakhiri. Di saat media massa sudah kehilangan taji, ketika parlemen tidak sanggup lagi menyuarakan aspirasi rakyat, pada masa pejabat sudah takut sama atasa, serta rakyat tidak sanggup lagi menunggu perbaikan, mahasiswa lah yang berani bergerak. Mereka mengepung gedung DPR/MPR RI untuk meng-impeachment presiden terpilih, Soeharto. Berkat perjuanga mereka, era ORBA pun berhasil di akhiri. Reformasi yang mereka suarakan pun akhirnya terwujud.

Paradoks Masa Kini

Itulah potret pergerakan pemuda dan mahasiswa di masa lalu. Kecintaan mereka yang luar biasa tingginya pada bangsa ini mampu meleburkan segala bentuk perbedaan dan kepentingan demi satu tujuan. Kemurnian tekad mereka tanpa adanya harapan apapun dari manusia lainnya, tak mengharapkan harta benda, pujian, apalagi sekedar ucapan terima kasih dari orang – orang di sekitarnya. Not at all!. Yang mereka harapkan adalah terbentuknya Indonesia yang lebih baik.

Akan tetapi, nilai – nilai itu mulai memudar jika kita amati di masa – masa sekarang. Semangat – semangat mereka banyak yang sudah luntur. Semakin sedikit jumlah pemuda yang terlibat secara aktif organisasi perjuangan di lingkungan kampus serta pengaruh gaya hedonis ala barat semakin mem-bobrok-kan suasana.

Mengapa Mereka Berubah?

Ketika masa perjuangan kemerdekaan, mahasiswa dan pemuda mampu mengadakan kongres dan pertemuan, meskipun teknologi komunikasi sangat jauh tertinggal dari masa sekarang. Namun kini, forum – forum diskusi mahasiswa semakin sepi dan kehilangan peminat. Detika dahulu Prof. Sardjito dan dr. Karjadi, yang keduanya merupakan dokter, menjadi pasukan garda terdepan dalam perjuangan bangsa. Kini mahasiswa kedokteran telah disibukkan dengan diktat – diktat tebal serta jadwal kuliah yang padat, hanya segelintir saja yang sempat berfikir tentang bangsa yang tak kunjung makmur ini serta rakyat yang melarat di negeri kaya akan SDA. Ketika tahun 1998 mahasiswa dari berbagai kalangan mampu bersatu padu menurunkan rezim Suharto, pemuda kini lebih disibukkan dengan kepentingan golongan organisasinya. Bahkan tidak terelakkan perseteruan antara lembaga mahasiswa. Tahun 1960-an, isu Tritura (Tri Tuntutan Rakyat) menjadi isu nasional dan didukung oleh rakyat, tahun 2008 mahasiswa mendeklarasikan isu Tugu Rakyat (Tujuh Gugatan Rakyat) sebagai solusi atas kesengsaraan rakyat yang tak kunjung usai. Namun hasilnya 180 derajat dari Tritura. Apakah gerangan yang membuat perjuangan dari masa ke masa makin tidak terasa?

Ada banyak sekali penyebab melempemnya pergerakan mahasiswa. Pertama, pengaruh hedonisme budaya barat yang cepat sekali menyebar ke kalangan remaja. Pandangan bahwa hidup hanya sekali so harus dinikmati, membuat mereka menggunakan waktu – waktu luang mereka untuk bersenang – senang. Para pelajar di kota – kota besar akan lebih banyak yang berada di night club pada malam minggu daripada yang berdiskusi tentang penyelesaian permasalahan bangsa ini. Remaja yang lebih memikirkan bagaimana penampilannya di mata lawan jenis semakin banyak saja jumlahnya, mengalahkan mereka yang lebih memikirkan penderitaan rakyatnya.

Faktor kedua adalah privatisasi lembaga pendidikan. Semakin diberi kebebasan untuk mengatur kampusnya sendiri, PTN – PTN telah berubah kostum menjadi lembaga dagang daripada lembaga pendidikan. Dengan semakin melangitnya biaya kuliah, maka semakin kecillah kesempatan kaum pinggiran untuk kuliah. Akhirnya hanya orang – orang berduit saja yang kuliah. Faktor ini bersinergi dengan faktor yang pertama untuk menghasilkan generasi yang suka foya – foya. Mereka orang berduit serta berpikiran sempit bahwa hidup adalah untuk dinikmati, maka rusaklah generasi muda di perguruan tinggi. Semakin tahun, semakin banyak saja mahasiswa borjuis yang diterima di PTN, selaras dengan itu, semakin banyak pulalah kaum hedonis.

Kedua faktor internal dari mahasiswa itu ditambah lagi dari sektor kampus. Dengan dalil peningkatan kualitas, PTN – PTN makin mengetatkan jadwal perkuliahan mereka sehingga mahasiswa akan disibukkan dengan kuliah saja, hampir tidak ada waktu luang untuk ikut berorganisasi dan berdiskusi. Waktu mereka dihabiskan untuk mengerjakan tugas – tugas kuliah, laporan praktikum, hafalan bahan – bahan yang dipadatkan. Dengan biaya kuliah yang mahal, mereka pasti ingin segera cepat – cepat lulus dan diterima kerja. Frame berfikir untuk menjadi pekerja inilah yang mengkikis semangat dan kepedulian mahasiswa masa kini.

Tiga faktor tersebut masih bisa meloloskan sebagian mahasiswa untuk tetap aktif di organisasi perjuangan. Namun permasalahan tak berhenti sampai disana saja. Ada saja golongan – golongan yang memanfaatkan keberadaan organisasi mahasiswa untuk membawa misi – misi politis mereka. Sebagian mahasiswa pastinya tahu kenapa BEM salah satu perguruan tinggi terkemuka di Jawa Tengah dibubarkan. Sederhana: mereka disinyalir ditumpangi oleh parpol tertentu. Bahkan yang lebih parah lagi adalah kasus di UNHAS, mahasiswa diprovokasi sedemikian rupa sehingga tampil brutal laksana preman yang tak pernah mengenyam pendidikan.

Faktor berikutnya adalah kurangnya dukungan dari institusi lain terkait perjuangan mahasiswa era modern ini. Di tahun 1945, ketika para pemuda berhasil menggerakkan bung Karno untuk memproklamirkan nusantara, media cetak dan elektronis dengan segera menyebarkan berita tersebut. Tritura pun bisa menjadi isu nasional ketika media mendukung pergerakan itu. Namun, 12 Mei lalu, ketika Tugu Rakyat diusung oleh mahasiswa dari seluruh penjuru negeri, media sama sekali tidak menunjukkan kerjasamanya dengan mahasiswa. Tak satupun surat kabar nasional yang mempublikasikannya. Parahnya lagi, ketika ada aksi mahasiswa yang anarkhi, media dengan segera mempublikasikannya.

Penguatan Semangat Mahasiswa

Dengan sedemikian berat tantangan yang dihadapi mahasiswa dalam berjuang, semangat dan dedikasi yang tinggi sangat diperlukan. Mereka tidak boleh tergoda oleh godaan hedonisme rekan – rekan mereka di kampus. Jadwal kuliah yang ketat juga harus disiasati dengan jitu supaya mereka bisa menjadi Bung Hatta yang cemerlang di kuliah juga sangat aktif di organisasi. Dukungan yang minim dari instansi lainnya juga semestinya tidak menjadi masalah yang berarti dalam berjuang. Karena mahasiswa semestinya tidak mengharap imbalan apapun dari perjuangan mereka.

Tetap semangat wahai mahasiswa dan pemuda Indonesia. Bangsa ini masih menginginkanmu untuk membawa perubahan. Karena harapan itu masih ada! Hidup Mahasiswa Indonesia! Hidup rakyat Indonesia!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: