Mendefinisikan Perguruan Tinggi Idaman

kampus idaman

kampus idaman

“Janganlah mengejar kesuksesan. Tapi jadilah manusia unggul sehingga kesuksesan itulah yang akan mengejarmu.”

Satu penggalan dari film “3 Idiots,” dengan segala kritiknya pada sistem pendidikan, menjadi inspirasi saya dalam mendefinisikan konsep perguruan tinggi idaman.

Entitas kampus sebagai lembaga pendidikan tinggi mempunyai peran strategis yang amat besar bagi pembangunan negeri ini. Merekalah sumber lahirnya penggerak pembangunan di negeri ini. Para pemimpin eksekutif dulunya dididik dan dibina di kampus, pengusaha – pengusaha besar pun banyak yang tumbuh berkembang dari didikan kampus, serta para perusak bangsa juga hasil didikan kampus.

Jika kita memimpikan perguruan tinggi idaman, lalu kriteria seperti apakah yang semestinya menjadi prasarat kualifikasinya?

Menurut hemat saya, yang paling utama dan pertama, kampus idaman harus mampu memaknai pendidikan secara utuh, bukan sekedar menghadirkan peserta didik di kelas lalu di-cekok-i dengan materi kuliah, namun lebih dari itu kampus berkewajiban membuat mahasiswa-nya mengerti akan alasan dan tujuan mereka menimba ilmu di kampus.

Tanpa tujuan dan landasan reasoning yang matang, mahasiswa hanya akan menjadi robot – robot pembaca buku yang hanya mengikuti arus kelas tanpa tahu sampai muara mana dia akan berlabuh. Niatan belajar harus bisa ditumbuhkan dari peserta didik, bukan hanya sekedar paksaan pengerjaan tugas dari dosen atau pragmatisme IPK tinggi.

Dengan pemahaman makna pendidikan secara komprehensif, mahasiswa akan belajar tidak hanya sekedar untuk meraih nilai tinggi, namun untuk jangkauan yang jauh lebih luas, pemberdayaan bangsa dan kontribusi perbaikan. Sejak masuk ke bangku perkuliahan, mahasiswa akan berparadigma jangka panjang sehingga perilaku – perilaku mengarah ke jalan pintas akan dihindari.

Penanaman integritas mahasiswa dan dosen menjadi langkah kongkrit dari tahapan ini. Ketika semua elemen kampus memahami makna pendidikan secara utuh, maka hal – hal amoral seperti plagiarisme akan teratasi dengan sendirinya karena mereka sadar arah pendidikan telah menjauhkan mereka dari hal bobrok seperti itu.

Kedua, kampus semestinya memiliki visi yang matang dan jelas dalam mendidik mahasiswanya. Tujuan bersama antar elemen dalam kampus akan menjadi pandu pedoman gerakan elemen – elemen tersebut untuk menciptakan sinergitas kerja tim dan resultansi positif antar pengurus kampus, dosen pengajar, pegawai kampus, serta mahasiswa peserta didik.

Dengan visi yang jelas, tenaga pengajar tahu kemana mereka harus mengarahkan mahasiswanya. Sementara mahasiswa pun sudah memiliki gambaran jelas tujuannya di kampus sehingga sinkronisasi gerakan antar elemen berjalan seirama.

Ketiga, urgensitas sarana – prasana penunjang kegiatan belajar mengajar (KBM) di kampus tidak bisa dielakkan. Untuk mewujudkan visi kampus dan memfasilitasi perkembangan kapasitas mahasiswa, kampus membutuhkan infrastruktur penunjang yang lengkap.

Laboratorium dengan peralatan lengkap serta laboran handal mutlak diperlukan bagi pengembangan kompetensi peserta didik. Perpustakaan wajib ada untuk men-supply kecerdasan otak peserta didik dalam rangka perluasan pengetahuan mereka. Sarana ekstrakurikuler, seperti olahraga dan kesenian, tidak bisa dinafikkan keberadaannya untuk membantu peningkatan keterampilan mahasiswa.  Pun sarana peribadatan bagi mahasiswa dan tenaga pengajar juga harus dijadikan prioritas pembangunan kampus untuk menjadi perguruan tinggi idaman.

Bagian keempat untuk pembangunan kampus ideal ialah paradigm global-competition oriented untuk meningkatkan tingkat kompetensi universitas di tingkat dunia. Kampus idaman bukan sekedar kampus untuk menciptakan profesional yang berorientasi lokal, namun juga dia harus mampu menciptakan tokoh – tokoh perubahan besar di dunia, dan itu harus diinisialisasi sejak masa pendidikan di kampus.

Dewasa ini ranking dunia menjadi perhatian utama banyak perguruan tinggi favorit Indonesia, bukan semata untuk pamer fasilitas universitas, namun ranking dunia bisa menjadi parameter utama keberhasilan kampus dalam melakukan proses pendidikan.

Perihal diatas bukanlah ketentuan mutlak lambang kemodernan kampus, tetapi dengan pemenuhan kualifikasi tersebut membuat kampus semakin terkondisikan untuk menjadi perguruan tinggi terbaik, tidak sekedar tampak bagus dari luar, namun juga memiliki inner beauty yang tidak kalah eleoknya dari ‘kecantikan’ luarnya.

Tawaran konsep dari civitas akademika perguruan tinggi bisa menjadi pertimbangan utama konsep idaman. Kompetisi semacam Lomba Blog UII ini bisa menyaring input konsep perguruan tinggi idaman. Jika Universitas Islam Indonesia sedang menggarap konsep ini, mari kita lihat bersama hasilnya di era selanjutnya. Mampukah UII mewujudkan dirinya sebagai perguruan tinggi idaman?

16 Tanggapan to “Mendefinisikan Perguruan Tinggi Idaman”

  1. habiba nabila Says:

    saya setuju dengan pandangan bahwa universitas ideal seharusnya bukan hanya transfer ilmu, tapi memang sungguh2 mendidik karena pada tingkat universitas ini lah berbagai macam ideologi mahasiswa terbentuk. selain belajar kalkulus, komputasi, dll , pandangan,ideologi&tujuan hidup kita mulai terbentuk disini. oleh karena itu keberadaan universitas sangat penting untuk menyiapkan generasi khairu ummah yang nantinya akan menjadi leader.
    accordng to my daddy, sebuah universitas yang bagus itu harus bisa mencetak mahasiswa muslim unggulan yang bermental pemimpin dan bisa membuat perubahan positif pada lingkungannya.
    Tentu saja harus standar dunia, tapi dunia macam apa? kalau sekedar mengjar ranking dunia saat ini, artinya acuannya masih universitas2 barat yang terbukti ilmu2 nya membawa kehancuran pada saat ini.
    Solusinya ya harus kembali mengacu pada Quran&hadits, dan membangun world class islamic university.
    ini postingan buat lomba di UII ya bi?pas banget lah…hehe

    • Nasikun Says:

      yah…hal yg slama ini byk dilupakan byk universitas… mreka hanya mengajar tapi lupa mendidik mahasiswanya…

      • kharis Says:

        sedikit sharing2 pandangan dari saya

        Menurut pandangan saya, kampus idaman itu…
        1. Tidak hanya mampu menjadi sarana mengajar saja, namun juga mampu menjadi sarana mendidik menuju manusia unggul. Saya sangat setuju dengan saudara Nasikun. Yang saya maksud mendidik di sini bukan hanya “mencekoki” mahasiswa dengan materi perkuliahan saja, namun dapat menanamkan nilai moral bagi mahasiswanya, sehingga gelar sarjana tidak hanya sebatas gelar akademis saja, namun mempunyai nilai tambah berupa nilai-nilai moral yang dipunyai setiap mahasiwa. Dalam artian lain unggul dalam mutu, santun dalam perilaku, dan mulia dalam bertindak. Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa pasti kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan bangsa Indonesia, bagaimana bangsa Indonesia bisa maju jika generasi mudanya berilmu tinggi namun bermoral rendah, maukah kita jika tradisi korupsi bangsa ini terus hidup??
        2. Mampu menghasilkan mahasiswa yang berjiwa sosial tinggi. Mahasiswa tidak hanya pandai dalam teori saja, namun mampu mengimplementasikan keahlian dan ilmunya di lapangan, sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi kemaslahatan umat dan kemanfaatan masyarakat sekitar. Selain itu, jiwa sosial mampu diwujudkan mahasiswa dalam dunia kerja maupun setelah mengalami kesuksesan kelak. Misal mahasiswa yang telah menjadi pengusaha besar berinvestasi dengan mendirikan sekolah untuk anak jalanan gratis.
        3. Mengedepankan keilmuan dan prestasi daripada uang. Banyak kampus-kampus favorit yang tidak mengalokasiakan jatah lebih bagi mahasiswa yang tergolong kurang mampu maupun ekonomi rendah namun berkemampuan dan berprestasi lebih dalam berbagai bidang. Inilah awal kehancuran bagi dunia pendidikan. Banyak masyarakat Indonesia yang tergolong cerdas namun tergolong masyarakat miskin. Mereka tidak diberi kesempatan untuk mengeyam pendidikan di dunia kampus. Banyak pula calon mahasiswa yang gagal diterima melalui bibit unggul padahal mereka telah berprestasi secara internasional dan mengharumkan nama bangsa Indonesia (misal juara ICYS gagal diterima di suatu universitas ternama). Walaupun tidak dapat kita pungkiri uang itu sebagai pembangun infrastruktur kampus.
        4. Visi, misi, tujuan dan program kerja atau rencana strategis kampus ke depan harus jelas dan terkontrol.
        5. Mampu menghadirkan suasana nyaman bagi mahasiswa.

  2. iboy Says:

    film yang inspiratif..
    sampe2 saya yakin harus maksain cinta Mesin sementara ini dan yakin harus banting setir dari fokus keteknikan kalo udah lulus S1 Teknik,, hehehe… xD

    yang ente sampein di atas kayake udah cukup mewakili nilai2 idealitas yang harus ada di lembaga pendidikan..

    secara teknis, ane menyimpulkan bahwa transformasi ilmu dan ideologi di kelas saja belum cukup, apalagi untuk kampus yang ber-volume besar …

    kelompok2 kecil (diskusi, forum2 belajar, talaqqi, komunitas epistemik, dsb..) perlu didukung oleh civitas akademika lembaga pendidikan tersebut… ini penting untuk pendidikan integritas generasi bangsa..

    • Nasikun Says:

      @ Mas Kharis: terima kasih byk atas tanggapannya Mas.. emang byk dosen dalam kampus yg hanya mengajar tapi lupa mendidik… Apalagi rata2 dididik sedemikian hingga mereka hanya mikirin diri sendiri..kurang jiwa sosial..

      @Iboy: ente kayaknya bisa menjadi “Rancho” baru nih di JTMI Bal.. mendobrak sistem disana…haha…kan keren tuh ketua BEM bisa mereformasi sistem kampus….

  3. mutia Says:

    waw benar emang dari yang nasikun abi bilang . mahasiswa harus dibuat tahu muara akhirnya dari kuliahnya itu .
    saya ada di institut bukan universitas , jadi yang pingin saya tambahkan , perguruan tinggi idaman yaitu dimana dalam satu waktu sekaligus mahasiswa menjadi mandiri tapi juga mendapat perhatian intensif dari perguruan . ditambah lagi mahasiswa menjaga nilai orisinil , bukan membebek . contoh buat saya dalam jurusan seni rupa dan desain , ide dan karya dibebaskan sebebas-bebasnya dan tetap orisinil .
    juga tentu saja birokrasi yang sesuai dan tidak menyusahkan benar-benar idaman .
    well good luck bi buat blog competition nya

    • Nasikun Says:

      Sepakat…kemandirian mahasiswa juga menjadi kompetensi mutlak di era seakrang ini….. jika ia hanya “membebek” maka ketika panutannya gagal sangat mungkin ia kehilangna arah dan putus asa. Dengan kemandirian dia bisa menentukan sendiri kemana dia harus melangkah dan paham bagaimana dia mewujudkannya….

  4. ima Says:

    saya setuju sekali tentang konsep bagaimana seharusnya perguruan tinggi itu, malah, seharusnya konsep itu tidak hanya ada di perguruan tinggi, sekolah pada berbagai tingkatan seharusnya memperhatikan poin2 itu. sayangnya, kembali lagi ke moralitas civitasnya, banyak orang indonesia yang belum mengerti alasan kenapa mereka sekolah atau bahkan mengenyam pendidikan tinggi. banyak yang hanya merasa harus sekolah supaya jadi “orang”, atao g hanya jadi tukang becak, atau cleaning service. padahal belajar kan seumur hidup dan untuk seumur hidup. jadi meskipun sekolah itu punya visi misi, dan menjalankan pendidikan sesuai visi misi, tapi motivasi “berpendidikan” belum ada pada diri pelajarnya, ya….sulit menjadikan visi misi sekolah itu sukses.thats what i think

    • Nasikun Says:

      yeap….sangat mirip dengan kasus2 pelajar dan mahasiswa sekarang.. Cerita di “3 Idiots” cukup memotret realita ini. Bagaimana mahasiswa ICE (Imperial College of Engineering) hanya mengikuti sistem tanpa mengerti mengapa mereka harus melakukan hal2 itu..

  5. Husein Aby Says:

    sip Bi,, itu memang bener,,, yang jadi masalah sekarang adalah hanya sdikit orang yang sadar,, nah bagaimana cara paling efktif untuk meyakinkan hal ini pada universitas universitas??
    mari kita pikirkan =)

    • Nasikun Says:

      butuh tahapan2 yang cukup panjang sehingga konsekuensi waktu yg lama pun tak terbantahkan sebagai efeknya…. byk yg ndak sadar karena
      > kurang secara finansial : sehingga kuliah hanya untuk membebaskan diri dari belenggu kemiskinan…
      > “kasta” tinggi keluarga : orang2 dari keluarga mapan finansial rata2 menganggap kuliah sebagai formalitas untuk bisa mendapatkan posisi penting penerus keluarganya…
      > pragmatisme dunia kerja : mereka kuliah untuk mendapatkan kerja, ilmu di kampus kruang dihargainya….

      that’s what my mind says.. how’s yours????

  6. kharis Says:

    mungkin solusinya dengan mengadakan mata kuliah yang membahas apa sebenarnya tujuan kita kuliah atau mata kuliah agama yang disisipi nilai2 moral dan akhlak

  7. Team Ronggolawe Says:

    Berkunjung menjalin relasi dan mencari ilmu yang bermanfaat. Sukses yach ^_^ Salam dari teamronggolawe.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: